
Urgensi Ilmu dalam Islam: Fondasi Awal Pendidikan Kader Peradaban
Dalam bangunan peradaban Islam, ilmu bukan sekadar instrumen kognitif, tetapi merupakan asas ontologis yang menentukan arah eksistensi manusia. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peristiwa Nuzulul Wahyu menegaskan perintah fundamental: iqra’ (bacalah). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-‘Alaq/96 1:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Perintah iqra’ ini bukan hanya aktivitas membaca teks, tetapi juga merupakan deklarasi bahwa peradaban Islam dibangun di atas kesadaran akan ilmu. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat ini adalah ayat yang paling mulia yang pertama kali diturunkan dan bahwa ia mengandung isyarat agung tentang kedudukan membaca, menulis, dan ilmu pengetahuan dalam Islam (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Juz 8). Perintah membaca yang diawali dengan menyebut nama Allah menunjukkan bahwa segala aktivitas keilmuan harus bersumber dan bermuara pada ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ilmu dalam Perspektif Islam: Lebih dari Sekadar Epistemologi
Ilmu dalam perspektif Islam memiliki karakter yang berbeda dari epistemologi sekuler. Ia tidak berdiri bebas nilai, melainkan terikat pada wahyu sebagai sumber kebenaran tertinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Mujadilah/58: 11
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتو
Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu dan iman adalah dua pilar yang tidak dapat dipisahkan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa derajat yang dimaksud dalam ayat ini adalah derajat yang sempurna, yakni derajat orang yang menggabungkan ilmu dengan iman, sebab ilmu tanpa iman adalah bahaya, dan iman tanpa ilmu adalah kelemahan (Al-‘Utsaimin, Syarh Riyadhis Shalihin). Oleh karena itu, ilmu dalam Islam selalu berkelindan antara dimensi ilahiyah (wahyu) dan dimensi insaniyah (akal dan pengalaman).
Keseimbangan ini tampak jelas dalam perjalanan para nabi. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menunjukkan proses tahqiq al-iman (verifikasi keyakinan) melalui penalaran rasional atas alam semesta hingga sampai pada kesimpulan tauhid yang murni, sebagaimana dikisahkan dalam Q.S. Al-An’am/6: 76-79.
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًۭا ۖ قَالَ هَـٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْـَٔافِلِينَ ٧٦ فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًۭا قَالَ هَـٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ ٧٧ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةًۭ قَالَ هَـٰذَا رَبِّى هَـٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَـٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌۭ مِّمَّا تُشْرِكُونَ ٧٨ إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًۭا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ٧٩
(76) Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang, lalu dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam, dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (77) Lalu ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam, dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (78) Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.”Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (79) Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.
Adapun nasihat pendidikan tauhid yang diwariskan oleh Luqman al-Hakim kepada anaknya (Q.S. Luqman/31: 13-19) merupakan kurikulum pendidikan berbasis nilai yang paling komprehensif dalam Al-Qur’an, mencakup akidah, ibadah, dan akhlak sekaligus.
Ilmu sebagai Fondasi Kaderisasi: Transformasi Kepribadian
Dalam kerangka pendidikan kader, ilmu tidak berhenti pada transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi harus bergerak menuju transformasi kepribadian (transformation of personality). Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (H.R. Ahmad, dan Al-Baihaqi dalam Al-Sunan Al-Kubra)
Hadits ini menegaskan bahwa misi kenabian sejatinya adalah misi pendidikan karakter. Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulum al-Din menegaskan bahwa tujuan ilmu adalah mendekatkan manusia kepada Allah dan membentuk akhlak yang mulia. Ia menyatakan: “Al-‘ilmu bila ‘amalin ka al-syajari bila tsamarin” (ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah). Hal ini menunjukkan bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu selalu diorientasikan pada pembentukan manusia yang bertakwa dan beramal saleh, bukan semata pada pencapaian intelektual.
Pendidikan kader dalam perspektif nubuwah menuntut tiga lapis integrasi yang saling menopang: pertama, ilmu yang membentuk cara berpikir (fikrah); kedua, iman yang membentuk orientasi hidup (ghayah); dan ketiga, amal yang membentuk karakter praksis (suluk). Tanpa integrasi ini, ilmu justru dapat melahirkan disorientasi, bahkan kerusakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Jumu’ah/62: 5
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارا
“Perumpamaan orang-orang yang diberi beban kitab Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.”
Dari Individu ke Peradaban: Model Kaderisasi Nubuwah
Jika ditarik ke skala yang lebih luas, urgensi ilmu dalam Islam bermuara pada pembangunan peradaban. Prosesnya bersifat bertahap dan organik: ilmu melahirkan kesadaran, kesadaran melahirkan komitmen, komitmen melahirkan amal kolektif, dan amal kolektif melahirkan peradaban. Model ini tercermin secara sempurna dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang oleh para ulama sirah dibagi menjadi dua fase besar, yaitu fase Makkah sebagai fase pembentukan (tarbiyah) dan fase Madinah sebagai fase pembangunan (tamkin).
Dalam fase Makkah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik para sahabat secara intensif di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, menanamkan tauhid, membaca Al-Qur’an, dan membentuk karakter. Ini adalah laboratorium kaderisasi pertama dalam sejarah Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلى كُلِّ مُسْلِمْ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (H.R. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini mencakup ilmu fardu ‘ain, yakni ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu Muslim agar dapat melaksanakan kewajiban agamanya dengan benar. Dari sini jelas bahwa Islam tidak mengenal pemisahan antara kewajiban berilmu dan kewajiban beramal. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk individu Muslim yang utuh.
Ibnu Khaldun dalam magnum opus-nya, Al-Muqaddimah, menganalisis bahwa kemajuan dan kemunduran peradaban sangat ditentukan oleh kualitas ‘ashabiyyah (solidaritas sosial) yang dibangun di atas kesadaran bersama. Dalam konteks Islam, kesadaran bersama itu tidak lain adalah kesadaran yang lahir dari pendidikan berbasis wahyu. Ketika para sahabat meninggalkan Makkah menuju Madinah, mereka tidak hanya berpindah tempat secara geografis, melainkan membawa bekal ilmu dan iman yang kemudian menjadi fondasi peradaban Islam pertama yang pernah ada.
Dengan demikian, urgensi ilmu dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari misi kaderisasi dan pembangunan peradaban. Ilmu adalah titik awal, tetapi bukan tujuan akhir. Ia harus diarahkan, diinternalisasikan, dan diwujudkan dalam amal nyata. Sejarah modern menunjukkan bahwa krisis peradaban sering kali bukan karena ketiadaan ilmu, tetapi karena ilmu yang tercerabut dari nilai wahyu. Oleh karena itu, merumuskan kembali paradigma pendidikan yang berakar pada tradisi nubuwah adalah sebuah keniscayaan, bukan sekadar pilihan.
*** Bersambung ke bagian berikutnya ***
