Oleh Dr. Abdul Qadir, S.Pd.I.,MA (Ketua STAI AlBayan Sulawesi Selatan)
Makassar, Staialbayan.ac.id —- Ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kedewasaan manusia, kita perlu kembali bertanya, ke mana sebenarnya kehidupan ini diarahkan ? Ada sebuah paradoks yang semakin terasa dalam kehidupan manusia modern. Kita semakin mudah terhubung satu sama lain, akan tetapi belum tentu semakin dekat. Kita memiliki akses terhadap informasi yang hampir tak terbatas, tetapi belum tentu semakin bijaksana. Kita dapat berbicara dengan orang yang berada di belahan dunia lain dalam hitungan detik, tetapi terkadang kesulitan mendengarkan orang yang duduk tepat di hadapan kita.
Jari-jari kita begitu lincah menggulir layar telepon genggam. Berita datang silih berganti, video pendek berganti tanpa jeda, dan berbagai notifikasi seolah menuntut perhatian setiap saat. Namun, ketika harus membaca buku dengan serius, menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, atau duduk tenang untuk merenungkan kehidupan, kita justru merasa gelisah.
Kita hidup pada zaman ketika informasi semakin mudah diperoleh, tetapi perhatian semakin mudah terpecah. Teknologi menawarkan kemudahan, tetapi kemudahan yang tidak dikelola dapat membuat manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Di sinilah pertanyaan penting itu muncul; apakah manusia sedang mengendalikan kemajuan teknologi, atau justru sedang dibentuk oleh teknologi yang diciptakannya sendiri ?.
Pertanyaan ini bukan ajakan untuk menolak modernitas. Teknologi telah membantu manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Persoalannya bukan terletak pada kemajuan itu sendiri, melainkan pada arah penggunaannya dan kesiapan manusia dalam mengelolanya. Kita membutuhkan kemajuan yang tidak hanya membuat kehidupan semakin cepat, tetapi juga semakin bermakna.
Saat Kemajuan Tidak Selalu Berarti Kedewasaan
Selama ini, kemajuan sering diukur melalui pertumbuhan ekonomi, kecanggihan teknologi, kecepatan komunikasi, dan banyaknya informasi yang dapat diakses. Ukuran-ukuran tersebut penting, tetapi belum cukup untuk menjelaskan kualitas manusia. Seseorang dapat menguasai teknologi kecerdasan buatan, tetapi belum tentu mampu membedakan informasi yang benar dari informasi yang menyesatkan. Seseorang dapat memiliki ribuan pengikut di media sosial, tetapi tetap merasa kesepian. Seseorang dapat menyelesaikan banyak pekerjaan dengan bantuan perangkat digital, tetapi belum tentu memiliki kedalaman berpikir dan keteguhan moral dalam mengambil keputusan.
Dengan kata lain, kemampuan manusia untuk melakukan sesuatu tidak selalu diikuti oleh kematangan dalam menentukan apa yang seharusnya dilakukan. Krisis manusia modern tidak selalu tampil dalam bentuk kemiskinan material atau keterbelakangan pengetahuan. Ia dapat muncul di tengah kelimpahan, bahkan di tengah masyarakat yang secara teknologi sangat maju.
Taylor, Yankouskaya, dan Panourgia (2024) dalam penelitian mereka terhadap dewasa muda menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berhubungan erat dengan meningkatnya kesepian dan distres psikologis, meski hubungan ini dimediasi oleh berbagai faktor kontekstual. Temuan ini menegaskan bahwa keterhubungan secara teknis tidak otomatis menjamin terpenuhinya kebutuhan manusia akan hubungan yang bermakna.
Laporan Komisi Koneksi Sosial Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2025 juga menegaskan bahwa kesepian dan isolasi sosial merupakan persoalan yang luas, dengan konsekuensi serius bagi kesehatan, kesejahteraan, dan kehidupan masyarakat (World Health Organization, 2025).
Karena itu, kita perlu berhati-hati agar tidak menyederhanakan seluruh persoalan menjadi kesalahan teknologi. Manusia memiliki latar belakang, kebutuhan, lingkungan, dan pengalaman yang berbeda. Teknologi dapat memperburuk kebiasaan tertentu, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperbaikinya. Yang perlu kita periksa adalah hubungan antara teknologi, kebiasaan, lingkungan sosial, dan kualitas diri manusia.
Krisis Perhatian, Krisis Makna, dan Krisis Orientasi
Jika berbagai fenomena modern itu dibaca lebih dalam, setidaknya terdapat tiga persoalan yang patut menjadi perhatian, yaitu:
Pertama; Krisis perhatian. Manusia semakin sering berpindah dari satu informasi ke informasi lain tanpa memberikan waktu yang cukup untuk memahami, menguji, dan merenungkannya. Padahal, pengetahuan yang matang tidak hanya membutuhkan akses terhadap informasi, tetapi juga konsentrasi, penalaran, dan kesediaan untuk memeriksa kebenaran.
Kedua; Krisis makna. Ketika kehidupan terus diukur melalui pencapaian, popularitas, kepemilikan, dan pengakuan orang lain, manusia dapat kehilangan kesempatan untuk bertanya tentang tujuan hidupnya sendiri. Ia sibuk mengejar sesuatu, tetapi tidak selalu mengetahui mengapa sesuatu itu harus dikejar.
Ketiga; Krisis orientasi moral. Kemampuan untuk melakukan sesuatu berkembang sangat cepat, sedangkan pertanyaan tentang benar dan salah, manfaat dan mudarat, serta tanggung jawab dan konsekuensi terkadang tidak memperoleh perhatian yang sepadan.
Ketiga persoalan ini saling berkaitan. Perhatian yang terpecah dapat melemahkan kedalaman berpikir. Kedalaman berpikir yang tidak dibangun dapat menyulitkan manusia dalam menimbang pilihan. Sementara itu, orientasi hidup yang kabur dapat membuat manusia mudah mengikuti arus, meskipun arus tersebut tidak membawanya menuju kebaikan.
Tentu saja, hubungan ini bukan rumus sebab-akibat yang berlaku sama pada setiap orang. Namun, ia memberikan kerangka untuk membaca persoalan manusia modern secara lebih utuh. Kita tidak cukup hanya mengajari manusia menggunakan teknologi. Kita juga harus membantunya memahami tujuan, batas, tanggung jawab, dan nilai yang semestinya membimbing penggunaan teknologi tersebut.
Di sinilah pendidikan memperoleh tugas yang lebih besar daripada sekadar memindahkan pengetahuan atau melatih keterampilan. Pendidikan harus membantu manusia menjadi pribadi yang mampu berpikir jernih, mengendalikan diri, menjaga hubungan sosial, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Tetapi, dari mana proses pembentukan manusia semacam itu harus dimulai ? Bagi seorang Muslim, pertanyaan ini membawa kita kembali kepada wahyu.
Membaca Wahyu sebagai Proses Pembentukan Manusia
Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang harus dipercayai dan dilakukan manusia. Wahyu juga membimbing manusia melalui proses pembentukan yang menyentuh cara berpikir, kebersihan jiwa, akhlak, tanggung jawab sosial, dan orientasi hidup. Salah satu pintu untuk memahami proses tersebut adalah pembacaan Al-Qur’an dengan memperhatikan urutan turunnya wahyu (Tartib Nuzuli). Pendekatan ini membantu kita melihat bagaimana pesan-pesan awal kenabian membangun fondasi manusia dan masyarakat secara bertahap.
Dalam tradisi pembelajaran yang menggunakan urutan turunnya wahyu (Tartib Nuzuli), yakni Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-Muzzammil, Al-Muddatsir, kemudian Al-Fatihah. Dari urutan-urutan tersebut, terdapat alur pendidikan yang menarik untuk direnungkan. Urutan ini merupakan kerangka pedagogis yang dikembangkan oleh K.H. Abdullah Said, pendiri Pesantren Hidayatullah, sebagai manhaj gerakan berbasis wahyu (Abdullah Said, 2019; Abdul Kadir, 2025). Sejumlah daftar kronologi wahyu yang beredar memang berbeda dalam menempatkan beberapa surah awal, sehingga pembacaan pedagogis perlu dibedakan dari klaim bahwa seluruh urutan itu disepakati secara historis (Tanzil, t.t.).
Yang penting bagi pembahasan ini ialah pelajaran tentang proses pembentukan manusia yang dapat kita gali dari pesan-pesan wahyu berdasar Tartib Nuzul tersebut.
1. Surah Al-‘Alaq: Memulihkan Hubungan antara Ilmu dan Tuhan sebagai Pencipta
Wahyu pertama ini dimulai dengan perintah:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. (QS. Al-‘Alaq [96]: 1)
Perintah membaca tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan nama Tuhan yang menciptakan. Membaca, dalam perspektif ini, bukan sekadar mengumpulkan informasi, melainkan aktivitas manusia yang memiliki arah dan tanggung jawab di hadapan Penciptanya.
Manusia modern membutuhkan kemampuan membaca dalam arti yang luas, seperti membaca teks, data, perkembangan teknologi, realitas sosial, dan tanda-tanda kehidupan. Namun, ia juga membutuhkan kemampuan menimbang makna dan konsekuensi dari apa yang dibacanya. Tidak semua yang menarik layak diikuti, tidak semua yang viral layak dipercaya, dan tidak semua yang dapat dilakukan layak dikerjakan.
Ayat-ayat awal surah Al-‘Alaq juga mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu yang lemah, sedangkan ayat 6 dan 7 memperingatkan kecenderungan manusia melampaui batas ketika merasa dirinya serba cukup. Dengan demikian, pengetahuan dan kemampuan tidak boleh membuat manusia kehilangan kesadaran tentang asal-usul, keterbatasan, dan tanggung jawabnya.
Dalam konteks digital, pesan ini relevan untuk membangun kebiasaan belajar yang tidak sekadar cepat, tetapi juga kritis dan bertanggung jawab. Kita tidak boleh membiarkan algoritma menentukan seluruh perhatian kita, sebagaimana kita tidak seharusnya menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin. Teknologi boleh membantu pencarian pengetahuan. Akan tetapi, manusia tetap harus bertanggung jawab atas kebenaran, makna, dan penggunaan pengetahuan tersebut.
2. Surah Al-Qalam: Mengembalikan Ilmu kepada Akhlak
Setelah fondasi ilmu dan pengenalan kepada Tuhan, pesan awal surah Al-Qalam mengarahkan perhatian kepada pena dan akhlak:
ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan. (QS. Al-Qalam [68]: 1)
Pada ayat keempat, Allah menegaskan tentang Rasulullah yang memiliki akhlak terpuji:
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam [68]: 4)
Pesan ini mengingatkan bahwa pengetahuan dan kemampuan menulis tidak terpisah dari akhlak. Dalam dunia digital saat ini, seseorang dapat menghasilkan tulisan, gambar, video, bahkan berbagai produk pengetahuan dengan bantuan kecerdasan buatan. Namun, pertanyaan etis tetap harus diajukan, apakah informasi itu benar ? apakah karya itu jujur ? apakah penggunaannya bermanfaat ? apakah ada pihak yang dirugikan ?. Penting untuk dicamkan bahwa kecanggihan alat tidak dapat menggantikan integritas penggunanya.
UNESCO, dalam panduannya tentang kecerdasan buatan generatif dalam pendidikan dan penelitian, menekankan perlunya pendekatan yang berpusat pada manusia, termasuk perhatian terhadap privasi, etika, dan rancangan pembelajaran yang bermakna (Miao & Holmes, 2023). Yusnita (2025) lebih lanjut menegaskan bahwa integrasi nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis dalam pendidikan karakter di era digital bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi yang menentukan arah dan kualitas penggunaan teknologi.
Dalam kerangka pendidikan berbasis wahyu, literasi digital haruslah berjalan bersama pendidikan akhlak, sehingga kita bukan hanya mendidik generasi yang cakap menggunakan teknologi, melainkan generasi yang memiliki alasan moral untuk menggunakan teknologi secara benar.
3. Al-Muzzammil: Menguatkan Jiwa di Tengah Kebisingan Zaman
Kemampuan berpikir dan akhlak membutuhkan fondasi yang lebih dalam agar jiwa dapat terpelihara. Surah Al-Muzzammil memuat perintah untuk bangun mengerjakan shalat malam, membaca Al-Qur’an dengan tartil:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمُزَّمِّلُ # قُمِ ٱلَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا # نِّصْفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا # أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا # إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيْلِ هِىَ أَشَدُّ وَطْـًٔا وَأَقْوَمُ قِيلًا # إِنَّ لَكَ فِى ٱلنَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا #وَٱذْكُرِ ٱسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
Terjemahnya: 1. Hai orang yang berselimut (Muhammad) , 2. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, 3. Kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. 4. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. 5. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. 6. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). 7. Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (QS. Al-Muzzammil [73]: 1- 7)
Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa pembentukan manusia tidak cukup dilakukan melalui aktivitas lahiriah. Ada kebutuhan untuk menyediakan waktu bagi ibadah, perenungan, dan penguatan hubungan dengan Allah. Qiyamul lail, tilawah yang tartil, dan dzikir bukan hanya amalan ritual, melainkan proses pembentukan jiwa yang kokoh di tengah tantangan zaman.
Manusia modern hidup di tengah kebisingan informasi. Bahkan ketika tubuhnya beristirahat, pikirannya dapat terus dipenuhi berita, hiburan, percakapan, dan tuntutan untuk selalu terhubung. Karena itu, kemampuan untuk berhenti sejenak menjadi penting. Dalam perspektif wahyu, jeda bukan sekadar teknik produktivitas. Ia dapat menjadi ruang untuk menata niat, mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan mengembalikan orientasi hidup.
Qiyamul lail, tilawah yang tartil, zikir, dan doa bukanlah pelarian dari realitas. Semua itu dapat menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi realitas dengan lebih tenang, sabar, dan bertanggung jawab. Jiwa yang terlatih untuk tunduk kepada Allah diharapkan tidak mudah diperbudak oleh dorongan sesaat, tekanan sosial, atau kebutuhan memperoleh pengakuan manusia.
4. Al-Muddatsir: Dari Pembenahan Diri Menuju Tanggung Jawab Sosial
Wahyu tidak berhenti pada pembentukan pribadi. Ia juga menggerakkan manusia untuk mengambil tanggung jawab. Surah Al-Muddatsir memuat seruan:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمُدَّثِّرُ # قُمْ فَأَنذِرْ
Terjemahnya: 1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
Manusia yang telah belajar, membangun akhlak, dan menguatkan jiwa tidak seharusnya berhenti pada keselamatan dirinya sendiri. Ia perlu hadir di tengah masyarakat, menyampaikan kebenaran dengan hikmah, memperbaiki keadaan, dan memberikan manfaat. Di tengah krisis manusia modern, tugas ini dapat diwujudkan melalui pendidikan yang memulihkan daya pikir, dakwah yang menjawab persoalan nyata, keluarga yang membangun kedekatan, serta komunitas yang menghidupkan kepedulian.
Kita tidak cukup hanya mengeluhkan generasi yang kecanduan layar. Kita perlu menghadirkan lingkungan yang membuat mereka menemukan ilmu yang menarik, hubungan yang hangat, aktivitas yang bermakna, dan teladan yang dapat dipercaya. Kritik terhadap zaman harus disertai kerja perbaikan. Jika tidak, kritik hanya akan menambah kebisingan tanpa mengubah keadaan.
5. Al-Fatihah: Menemukan Kembali Arah Kehidupan
Pada akhirnya, manusia membutuhkan orientasi yang menyatukan seluruh aktivitasnya. Surah Al-Fatihah membuka jalan itu melalui pengakuan bahwa segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, dan penegasan:
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
Terjemahnya: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (QS. Al-Fatihah [1]: 5)
Ayat ini menempatkan penghambaan kepada Allah sebagai pusat orientasi hidup. Ilmu, teknologi, pekerjaan, kekayaan, dan hubungan sosial memperoleh tempatnya dalam kerangka tanggung jawab sebagai hamba Allah. Dengan orientasi ini, manusia tidak harus menolak kemajuan. Ia justru dapat mengembangkan ilmu dan teknologi, tetapi tidak menjadikan keduanya sebagai tujuan tertinggi kehidupan.
Keberhasilan tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat seseorang bergerak, seberapa banyak pengikutnya, atau seberapa tinggi pencapaiannya. Keberhasilan juga menyangkut arah yang ditempuh, nilai yang dipertahankan, manfaat yang dihasilkan, dan tanggung jawab yang ditunaikan. Inilah pentingnya membangun peradaban yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu, kekuatan spiritual, keluhuran akhlak, dan kepedulian sosial.
Menemukan Kembali Jati Diri Manusia
Pembacaan melalui Tartib Nuzuli membawa kita kepada satu pelajaran penting bahwa perbaikan peradaban harus dimulai dari pembentukan manusia, dan pembentukan manusia membutuhkan proses yang utuh. Manusia perlu belajar membaca dengan benar, menempatkan ilmu dalam bimbingan akhlak, menguatkan jiwa melalui ibadah, mengambil tanggung jawab sosial, dan menjaga orientasi hidup kepada Allah. Kerangka ini sejalan dengan filosofi pendidikan berbasis sistematika wahyu yang telah diterapkan di berbagai lembaga pendidikan Islam (Zahwan & Nursikin, 2025).
Proses ini tidak selesai hanya dengan satu ceramah, satu pelatihan literasi digital, atau satu kebijakan pendidikan. Ia membutuhkan keteladanan, pembiasaan, lingkungan yang sehat, dan kesinambungan pendidikan di rumah, sekolah, kampus, masjid, serta masyarakat. Dalam praktik sehari-hari, kita dapat memulainya dari langkah sederhana, di antaranya menyediakan waktu untuk membaca secara mendalam, memeriksa kebenaran sebelum membagikan informasi, membatasi penggunaan gawai ketika berinteraksi dengan keluarga, serta menyediakan waktu khusus untuk ibadah-ibadah nawafil seperti shalat berjama’ah, tilawah al-Qur’an, dzikir, qiyam al-lail, infaq serta bermuhasabah.
Langkah-langkah itu mungkin terlihat kecil. Namun, perubahan kebiasaan sering kali menjadi pintu bagi perubahan karakter. Ketika dilakukan secara konsisten dan ditopang lingkungan yang baik, kebiasaan tersebut dapat membantu manusia mengambil kembali kendali atas perhatian, pilihan, dan arah hidupnya.
Kita tidak sedang berusaha mengembalikan manusia ke masa ketika teknologi belum berkembang. Kita sedang berusaha memastikan agar kemajuan tidak membuat manusia kehilangan kemanusiaannya. Sebab, persoalan terbesar manusia modern bukan semata-mata karena ia memiliki terlalu banyak teknologi, terlalu banyak informasi, atau terlalu banyak pilihan. Persoalannya muncul ketika semua itu berkembang tanpa disertai kemampuan untuk menentukan mana yang benar, mana yang bermanfaat, dan mana yang layak menjadi tujuan hidup.
Wahyu hadir untuk membimbing manusia agar tidak kehilangan arah di tengah luasnya pilihan. Dalam kerangka Tartib Nuzuli, kita menemukan gambaran pendidikan yang bergerak dari fondasi ilmu dan tauhid menuju akhlak, penguatan spiritual, tanggung jawab sosial, dan orientasi penghambaan.
Dari sinilah perjalanan menemukan kembali jati diri dapat dimulai.
Kita tidak membutuhkan manusia yang sekadar semakin cepat mengikuti perubahan zaman. Kita membutuhkan manusia yang semakin matang dalam berpikir, semakin bersih dalam menata jiwa, semakin luhur dalam berakhlak, dan semakin bertanggung jawab dalam membangun kehidupan.
Sebab, peradaban yang besar tidak lahir hanya dari teknologi yang canggih, tetapi dari manusia yang mengetahui untuk apa kecanggihan itu digunakan. Kemajuan zaman harus berjalan bersama pendewasaan manusia. Teknologi harus berada dalam bimbingan ilmu dan akhlak. Dan seluruh ikhtiar membangun kehidupan harus tetap terhubung dengan petunjuk Allah.
Dari wahyu, manusia menemukan arah. Dari arah yang benar, manusia membangun kehidupan. Dan dari manusia yang dibentuk oleh wahyu, kita berharap lahir peradaban yang memuliakan manusia tanpa melepaskannya dari Sang Pencipta.
(Ed)

