Brain Rot di Era Digital: Membaca Fenomena Kemunduran Fokus dengan Cahaya Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5

Akademik,Berita

Brain Rot di Era Digital: Membaca Fenomena Kemunduran Fokus dengan Cahaya Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5

Oleh : Dr. Abdul Kadir, S.Pd.I., M.A (Ketua STAI Al-Bayan Hidayatullah Sulawesi Selatan)

Makassar, Staialbayan.ac.id —- Pernahkah Anda merasa sulit membaca satu halaman buku tanpa tergoda membuka ponsel ? atau mendapati anak betah menonton video pendek berjam-jam, tetapi gelisah ketika diminta menyimak nasihat selama lima menit ? gejala seperti ini disebut brain rot, yang secara harfiah berarti “pembusukan otak”.

Oxford University Press menetapkan brain rot sebagai kata popular pada tahun 2024   setelah penggunaannya melonjak 230% dibanding tahun sebelumnya (Associated Press, 2024). Oxford mendefinisikan brain rot  sebagai kemunduran kondisi mental atau intelektual seseorang yang dianggap berasal dari konsumsi berlebihan materi yang remeh dan tidak menantang, terutama konten daring. Istilah ini sebenarnya bukanlah barang baru, sebab Henry David Thoreau (1854) sudah memakainya saat ia menyindir saat ketika Inggris sibuk mengobati penyakit busuk kentang, tapi tidak ada yang berusaha mengobati “busuk otak” yang jauh lebih luas dan lebih fatal.

Kekhawatiran itu kini punya dasar penelitian. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis berjudul Feeds, Feelings, and Focus menghimpun 71 studi dengan 98.299 peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin banyak seseorang menonton video pendek, semakin lemah ke mampuannya mempertahankan perhatian dan menahan dorongan sesaat (Mouriquand, 2025). Temuan ini penting bagi dunia pendidikan, sebab belajar membutuhkan dua kemampuan itu. Jauh sebelumnya, Simon (1971) sudah mengingatkan bahwa kelimpahan informasi melahirkan kemiskinan perhatian.

Bagi umat Islam, persoalannya lebih dalam daripada sekadar nilai ujian. Pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia beradab yang mengenal kedudukannya di hadapan Allah (Al-Attas, 1980). Tujuan itu dicapai lewat kegiatan yang menuntut kehadiran pikiran dan hati, seperti membaca Al-Qur’an, merenungi maknanya, menghafal, mengkaji kitab, dan shalat dengan khusyuk. Semua kegiatan ini membutuhkan fokus, padahal fokuslah yang paling mudah terkikis oleh kebiasaan menggulir layar.

Tulisan ini mencoba menjawab tiga pertanyaan sederhana. Apa sebenarnya brain rot? Mengapa ia perlu diwaspadai ? Dan bagaimana Al-Qur’an memberi jalan keluar ? Untuk pertanyaan terakhir, digunakan pendekatan tematik dengan merenungi lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq, yaitu wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw. Lima ayat itu singkat, tetapi memuat pondasi cara manusia seharusnya membaca, belajar, dan menggunakan perhatiannya.

Tulisan ini merupakan kajian pustaka kualitatif yang bersifat konseptual dengan berusaha menghimpun tiga kelompok sumber, yaitu laporan ilmiah dan pemberitaan tentang brain rot, kitab tafsir dan hadis, serta literatur filsafat pendidikan Islam. Penggunaan pendekatan tadabbur tematik, yaitu merenungi ayat-ayat berdasarkan tema tertentu, lalu hasilnya dirumuskan menjadi prinsip dan langkah pendidikan. Ada satu catatan penting: gagasan di sini belum diuji lewat penelitian lapangan, dan sebagian besar bukti tentang brain rot masih berupa hubungan statistik, bukan bukti sebab-akibat.

Brain Rot merupakan Istilah populer, bukan diagnosis dokter

Perlu dipahami sejak awal bahwa brain rot adalah istilah populer, bukan diagnosis medis. Ia dipakai untuk menggambarkan menurunnya fokus dan kualitas berpikir yang diyakini muncul karena konsumsi berlebihan konten daring yang dangkal (Associated Press, 2024). Dalam penelitian, gejala yang paling dekat dengannya dibahas sebagai dampak kognitif dari video pendek, yaitu klip berdurasi singkat di platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts (Mouriquand, 2025).

Pada anak dan remaja, tanda-tandanya biasanya terlihat dalam keseharian. Pertama, perhatian menjadi pendek, sehingga mereka sulit bertahan pada bacaan, ceramah, atau penjelasan yang panjang. Kedua, kendali diri melemah, sehingga mereka sulit menahan keinginan membuka ponsel saat belajar atau beribadah. Ketiga, mereka butuh rangsangan cepat, sehingga tugas yang lambat dan menuntut usaha terasa membosankan. Keempat, selera mereka bergeser ke konten yang ringan, dan bahan yang menuntut penalaran atau perenungan mulai ditolak.

Para peneliti menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap konten yang cepat dan sangat menggoda dapat menimbulkan habituasi, yaitu keadaan ketika seseorang menjadi kurang peka terhadap tugas yang lebih lambat dan menuntut usaha, seperti membaca, memecahkan masalah, dan belajar mendalam (Mouriquand, 2025). Rancangan platform memperkuat lingkaran ini. Layar yang bisa digulir tanpa henti dan rekomendasi otomatis membuat perhatian terus dipancing sebelum sempat mengendap menjadi pemahaman.

Kita juga perlu adil, sebab meta analisis tersebut menemukan pengaruh terkuat pada kemampuan kognitif, terutama menahan dorongan lalu perhatian, serta pada kecemasan dan stres. Namun, sebagian hasil lain tidak menunjukkan hubungan yang bermakna, dan para peneliti menduga keragaman isi konten ikut meredam dampaknya (Tubefilter, 2025). Karena datanya berupa hubungan statistik, kita tidak boleh menyederhanakan masalah menjadi “gawai pasti merusak”. Yang menentukan adalah jenis konten, lama pemakaian, dan pola penggunaannya.

Agar tidak terasa abstrak, berikut gambaran yang sering kita temui di masyarakat. Perlu diingat bahwa contoh-contoh ini menggambarkan pola yang sering diamati, bukan diagnosis, dan tidak setiap orang mengalaminya dengan cara yang sama.

1. Pada anak dan remaja

Seorang pelajar sulit menamatkan satu bab buku pelajaran, tetapi betah menonton puluhan video pendek berturut-turut. Ia gelisah ketika guru menjelaskan lebih dari beberapa menit, lalu spontan mengecek ponsel di bawah meja. Video pelajaran atau ceramah ditonton dengan kecepatan dua kali lipat, atau bagian yang dianggap membosankan dilompati, karena ia tidak tahan dengan tempo yang normal. Ketika tugas terasa berat, ia mencari jawaban instan lalu menyalinnya tanpa memahami.

2. Pada orang dewasa

Banyak orang dewasa mengalami hal serupa. Ponsel dibuka “sebentar” untuk satu keperluan, lalu tersadar bahwa empat puluh menit telah berlalu untuk menggulir layar tanpa tujuan. Berita hanya dibaca judul dan komentarnya, kemudian dibagikan atau diperdebatkan tanpa membuka isinya. Film ditonton atau rapat diikuti sambil memegang ponsel, sehingga perhatian tidak benar-benar hadir di keduanya. Sebagian orang juga mendapati dirinya sulit membaca artikel atau buku panjang yang dulu mudah diselesaikan, dan tidur larut karena “satu video lagi”.

3. Dalam kebiasaan bersama

Gejalanya juga tampak dalam kebiasaan bersama. Satu keluarga berkumpul di meja makan, tetapi masing-masing menunduk menatap layar. Frasa viral diulang-ulang tanpa makna yang jelas, dan potongan video dipercaya begitu saja karena tidak sempat dicek ke sumbernya. Pola seperti ini membuat kabar bohong lebih mudah menyebar, sebab kebiasaan memeriksa dan merenungkan mulai tergantikan oleh kebiasaan bereaksi cepat.

4. Dalam ibadah dan belajar agama

Dampaknya dapat menyentuh kehidupan rohani. Pikiran melayang ke notifikasi saat shalat, dan tangan refleks mencari ponsel sesaat setelah salam. Membaca Al-Qur’an terasa cepat membosankan, padahal menonton video berjam-jam terasa ringan. Sebagian orang mempelajari agama hanya dari potongan ceramah berdurasi puluhan detik, tanpa guru, tanpa konteks, dan tanpa melanjutkannya ke kajian yang utuh.

Ada tiga pertanyaan sederhana yang dapat kita ajukan kepada diri sendiri atau anak kita. Pertama, apakah saya sulit bertahan pada satu hal selama sepuluh sampai lima belas menit tanpa tergoda berpindah ? Kedua, apakah saya sering membuka layar tanpa sadar apa tujuannya ? Ketiga, apakah tontonan hari ini menambah ilmu, atau hanya mengisi waktu kosong ? Jika jawabannya sering “ya” untuk dua pertanyaan pertama dan “hanya mengisi waktu” untuk yang ketiga, itu tanda bahwa kebiasaan kita perlu ditata ulang. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, yang menentukan bukan semata lamanya, tetapi jenis konten dan pola penggunaannya.

Mengapa Brain Rot Perlu Diwaspadai?

A. Bahaya bagi kemampuan belajar

Perhatian dan kendali diri adalah fondasi belajar. Ketika keduanya melemah, seluruh bangunan belajar ikut goyah (Mouriquand, 2025). Anak yang terbiasa dengan klip pendek cenderung kesulitan menamatkan teks panjang, mengikuti alur argumen yang berlapis, dan menghafal secara berkelanjutan. Dalam lingkungan pendidikan Islam, dampaknya nyata: membaca kitab, mengulang hafalan, dan berdiskusi dalam halaqah terasa semakin berat. Pemakaian berlebihan juga dikaitkan dengan stres dan kecemasan yang lebih tinggi (Tubefilter, 2025).

B. Bahaya bagi hati dan ibadah

Perhatian yang terus terpecah mengancam kekhusyukan shalat, kesabaran dalam membaca Al-Qur’an, dan kemampuan merenungi ayat. Nabi saw. mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat yang banyak dilalaikan manusia (HR. Al-Bukhari no. 6412). Waktu luang yang habis untuk menggulir layar tanpa tujuan adalah contoh nyata kelalaian itu. Beliau juga bersabda bahwa di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya (HR. At-Tirmidzi no. 2317).

C. Bahaya bagi akhlak dan hubungan sosial

Konten yang tidak disaring dapat membuat perilaku tercela terasa biasa, menurunkan rasa hormat kepada guru dan orang tua, dan menanamkan kebiasaan serba instan yang bertentangan dengan watak sabar dalam menuntut ilmu. Hubungan langsung antara murid, guru, dan teman pun berkurang ketika perhatian terus tertambat pada layar. Padahal ilmu dalam tradisi Islam tumbuh melalui perjumpaan, keteladanan, dan kebersamaan.

Wahyu Pertama sebagai Penuntun

Wahyu pertama yang turun kepada Nabi saw. berisi perintah yang sangat relevan bagi zaman banjir informasi. Allah berfirman dalam Surah Al-‘Alaq/96 ayat 1 sampai 5:

๏ดฟ ุงู‚ู’ุฑูŽุฃู’ ุจูุงุณู’ู…ู ุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ู’ุฅูู†ุณูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูŽู„ูŽู‚ู ุงู‚ู’ุฑูŽุฃู’ ูˆูŽุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูƒู’ุฑูŽู…ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุนูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุจูุงู„ู’ู‚ูŽู„ูŽู…ู ุนูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุงู„ู’ุฅูู†ุณูŽุงู†ูŽ ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู’ ๏ดพ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Para mufasir seperti Ibn Katsir (1999), Hamka (1982), dan Qurais Shihab (2002) sepakat bahwa lima ayat ini merupakan wahyu yang pertama kali turun. Dalam riwayat Al-Bukhari, Malaikat Jibril datang kepada Nabi saw. dan berkata, “Bacalah!” Beliau menjawab bahwa dirinya tidak bisa membaca. Jibril mendekap beliau dan mengulang perintah itu hingga tiga kali, lalu membacakan ayat-ayat tersebut. Sejak awal, Islam memulai dengan pendidikan.

1. Membaca dengan nama Tuhan

ุงูู‚ู’ุฑูŽุฃู’ ุจูุงุณู’ู…ู ุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. (QS. Al-‘Alaq/96: 1)

Perintah iqra’ (bacalah) langsung diikat dengan kata bismi rabbik (dengan nama Tuhanmu). Quraish Shihab (2002) memahami bahwa membaca dan belajar harus bermula dari Allah dan dilakukan karena-Nya. Maknanya, membaca bukan sekadar menyerap apa saja yang lewat di depan mata. Membaca adalah ibadah yang punya arah.

Bagi persoalan brain rot, ayat ini menggeser pertanyaan kita. Selama ini orang bertanya, “Berapa jam anak boleh bermain ponsel?” Ayat pertama mengajak kita bertanya lebih dulu, “Untuk apa dan atas nama siapa saya membaca dan menonton ini?” Kebiasaan sederhana bisa dilatih: berhenti sejenak sebelum membuka layar, mengucap basmalah, dan menanyakan niat. Apakah tontonan ini mendekatkan saya kepada tujuan hidup, atau justru menjauhkan? Pertanyaan ini menjadi penawar bagi konsumsi tanpa arah. Ia juga menumbuhkan rasa sadar bahwa Allah menyertai setiap apa yang kita lihat dan baca.

Ayat ini juga mengajarkan pentingnya memilih bacaan. Kita tidak mungkin membaca semuanya, sehingga setiap pilihan sebenarnya adalah keputusan tentang apa yang akan membentuk pikiran dan hati kita. Orang tua dan guru dapat membantu anak menyusun daftar tontonan dan bacaan yang bermanfaat, lalu meninjaunya bersama secara berkala. Dengan cara ini, anak belajar bahwa memilih konten adalah bagian dari akhlak, bukan sekadar selera.

2. Ingat dari mana kita berasal

ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ู’ุฅูู†ุณูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูŽู„ูŽู‚ู

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (QS. Al-‘Alaq/96: 2)

Setelah menyebut diri-Nya sebagai Pencipta, Allah mengingatkan asal manusia yang sederhana, yaitu segumpal darah. Pengingat ini menumbuhkan kerendahan hati. Manusia bukan makhluk yang serba bisa dan serba tahu, sehingga ia perlu belajar dan perlu menjaga diri dari kesombongan merasa cukup.

Kesadaran ini sangat berguna di era digital. Akses tanpa batas pada hiburan dan informasi sering menumbuhkan rasa cukup yang semu, seakan-akan semua hal bisa kita ketahui hanya dengan menggeser jari. Padahal pengetahuan yang dangkal tidak sama dengan pemahaman. Kesadaran sebagai hamba yang lemah dan terbatas membantu kita memakai waktu sebagai amanah. Sebuah latihan yang bisa dilakukan setiap malam adalah muhasabah, yaitu menghitung ke mana waktu hari ini mengalir.

Contohnya sederhana. Sebelum tidur, anak dan orang tua dapat saling bercerita tentang satu hal bermanfaat yang dikerjakan hari itu, dan satu waktu yang terbuang percuma. Tidak perlu menyalahkan. Tujuannya melatih kejujuran pada diri sendiri dan menumbuhkan keinginan untuk memperbaiki esok hari.

3. Perintah yang diulang dan pembiasaan

ุงูู‚ู’ุฑูŽุฃู’ ูˆูŽุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูƒู’ุฑูŽู…ู

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. (QS. Al-‘Alaq/96: 3)

Kata iqra’ diulang pada ayat ketiga. Selain menegaskan pentingnya perintah itu, pengulangan ini dapat dibaca sebagai isyarat bahwa kemampuan membaca dibentuk lewat pembiasaan (Shihab, 2002). Kisah turunnya wahyu pun menunjukkan hal serupa: Jibril mengulang perintahnya sampai tiga kali. Kemampuan tidak lahir dari sekali coba, tetapi dari latihan yang berulang dan sabar.

Brain rot terbentuk karena kebiasaan, maka penawarnya juga kebiasaan. Karena pembusukan perhatian terjadi sedikit demi sedikit, pemulihannya pun harus bertahap. Beberapa langkah kecil dapat dimulai: menetapkan waktu tilawah dan membaca buku yang tetap setiap hari, mematikan notifikasi yang tidak perlu, dan memulai dari durasi yang pendek lalu menambahnya perlahan. Dukungan lingkungan juga membantu, misalnya belajar bersama dalam halaqah atau kelompok baca keluarga.

Ayat ini juga menyebut Allah sebagai Al-Akram, Yang Mahamulia. Bacaan yang kita pilih semestinya sesuai dengan kemuliaan itu. Waktu yang berharga layak diisi dengan bahan yang memuliakan akal dan hati, bukan sekadar membunuh bosan.

4. Tradisi pena dan literasi mendalam

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุนูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุจูุงู„ู’ู‚ูŽู„ูŽู…ู

Yang mengajar (manusia) dengan pena. (QS. Al-‘Alaq/96: 4)

Ayat keempat menyebut pena sebagai sarana pengajaran Allah. Ibn Katsir (1999) memandang pena sebagai nikmat besar yang dengannya ilmu dicatat dan dijaga lintas zaman. Menulis menuntut kita memilih kata, menyusun urutan gagasan, dan bertahan pada satu pikiran sampai selesai. Ketiga keterampilan itu justru yang tergerus oleh kebiasaan menonton klip pendek.

Karena itu, tradisi pena merupakan jawaban yang sangat praktis. Mencatat pelajaran dengan tangan, meringkas bacaan, dan menulis jurnal renungan ayat adalah latihan berpikir sekaligus warisan keilmuan Islam. Sekolah dan keluarga dapat menghidupkannya dengan tugas yang meminta anak mencipta sesuatu, misalnya meringkas kisah, menulis surat, atau membuat catatan harian, dan bukan hanya menonton atau menjawab singkat.

5. Dari menonton menuju menemukan

ุนูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุงู„ู’ุฅูู†ุณูŽุงู†ูŽ ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู’

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq/96: 5)

Ayat kelima menegaskan bahwa Allahlah sumber ilmu, dan manusia diajar sesuatu yang belum ia ketahui. Artinya, belajar bergerak ke arah yang baru: bertanya, mencari, menemukan, lalu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Pola ini berbeda dari konsumsi pasif ala brain rot, ketika seseorang hanya menerima hiburan tanpa berpikir dan tanpa menghasilkan apa pun.

Belajar yang sehat juga ditandai dengan rasa ingin tahu. Anak yang terbiasa bertanya kepada guru, orang tua, atau temannya akan terlatih untuk mendalami sesuatu, bukan berpindah dari satu tontonan ke tontonan berikutnya. Karena itu, pendidik perlu memberi ruang bagi pertanyaan, menghargai proses mencari jawaban, dan tidak hanya menilai kecepatan menjawab.

Dengan membaca ayat ini, kita memperoleh ukuran sederhana untuk menilai kegiatan digital. Apakah kegiatan ini menambah ilmu dan kemampuan saya, atau hanya menghabiskan waktu? Teknologi tetap boleh dan bahkan perlu dimanfaatkan, selama ia menolong kita belajar hal baru dan bukan menenggelamkan kita dalam hiburan yang tak berujung.

Dari lima ayat itu, kita dapat merangkum lima prinsip. Pertama, membaca bermula dari kesadaran kepada Allah (ayat 1). Kedua, ingat asal-usul agar rendah hati dan menjaga waktu (ayat 2). Ketiga, bangun kebiasaan baik secara berulang dan sabar (ayat 3). Keempat, hidupkan tradisi pena agar berpikir mendalam (ayat 4). Kelima, arahkan belajar menuju penemuan dan karya (ayat 5).

Kelima prinsip ini saling melengkapi. Niat yang lurus tanpa kebiasaan akan mudah goyah, sedangkan kebiasaan tanpa niat hanya menjadi rutinitas kosong. Demikian pula, membaca tanpa menulis dan bertanya akan berhenti pada konsumsi. Karena itu, kelimanya perlu dijalankan bersama dan dilatih terus-menerus, sebagaimana wahyu pertama yang tidak turun sekaligus panjang, tetapi singkat, padat, dan menjadi dasar bagi seluruh ayat yang turun sesudahnya.

Langkah Nyata di Rumah dan Sekolah

Prinsip-prinsip di atas dapat dijalankan oleh siapa pun. Di tingkat keluarga, orang tua bisa menyepakati aturan layar bersama anak, menyediakan waktu bersama yang bebas gawai, serta membaca dan bertilawah bersama. Anak lebih mudah meniru daripada menurut, sehingga contoh orang tua sangat menentukan.

Di tingkat guru dan dosen, keteladanan juga utama. Guru dapat menunjukkan disiplin memakai gawai, menambah lama waktu fokus siswa sedikit demi sedikit, dan menghidupkan diskusi serta tanya jawab langsung. Di tingkat lembaga, madrasah, sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi dapat memasukkan literasi digital berbasis nilai dalam kurikulum, menetapkan zona dan jam bebas gawai, menjadwalkan tilawah, bacaan, dan jurnal tulis, serta menilai tugas dari karya yang dihasilkan, bukan hanya jawaban singkat.

Hal terpenting, jangan berhenti pada larangan. Anak yang hanya dilarang akan mencari celah. Anak yang diberi pengganti yang bermakna, seperti bacaan menarik, komunitas yang baik, dan ibadah yang menenteramkan, akan lebih mudah melepaskan kebiasaan lama.

Sebagai gambaran, sebuah keluarga dapat mencoba rutinitas yang sederhana. Pagi hari dimulai dengan membaca Al-Qur’an sekitar sepuluh menit tanpa ponsel. Sepulang sekolah, ada waktu belajar atau membaca buku selama setengah jam dengan ponsel disimpan di tempat yang jauh dari jangkauan. Setelah maghrib, seluruh anggota keluarga duduk bersama untuk tilawah, berbincang, atau membaca bacaan ringan. Sebelum tidur, ponsel diletakkan di luar kamar dan anak menuliskan satu kalimat tentang hal baik yang ia pelajari hari itu. Rutinitas ini tidak harus persis sama di setiap rumah. Yang penting adalah konsisten, disepakati bersama, dan dijalankan dengan kasih sayang.

Bagi orang dewasa, pesannya serupa. Kita pun rentan terhadap kebiasaan menggulir layar. Mengurangi pemicu godaan, seperti menyimpan ponsel saat bekerja atau beribadah, menunjukkan kepada anak bahwa pengendalian diri adalah sesuatu yang bisa dilatih oleh siapa pun.

Penutup

Brain rot adalah istilah populer untuk melemahnya fokus dan kualitas berpikir akibat konsumsi konten digital yang dangkal. Bukti ilmiah terkini mengaitkan penggunaan video pendek yang tinggi dengan perhatian dan kendali diri yang lebih lemah, walaupun datanya berupa hubungan statistik dan dampaknya tidak sama pada setiap orang. Bagi peserta didik, bahayanya mencakup kemampuan belajar, kehidupan rohani, dan akhlak, sehingga menyentuh tujuan inti pendidikan Islam.

Lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq memberi jawaban yang utuh: membaca dengan nama Tuhan, ingat asal-usul, membangun kebiasaan, menghidupkan tradisi pena, dan belajar untuk menemukan hal baru. Solusi ini menggeser fokus dari sekadar membatasi layar menuju membentuk manusia yang membaca dengan nama Tuhannya. Kajian lanjutan perlu menguji efektivitas langkah-langkah ini secara langsung, misalnya melalui penelitian tindakan kelas di madrasah dan pesantren.

Akhirnya, tulisan ini bukan seruan untuk memusuhi teknologi. Gawai dan internet membawa banyak manfaat, termasuk akses pada ilmu yang dahulu sulit dijangkau. Pesannya adalah agar kita tetap menjadi tuan atas perhatian kita sendiri. Semoga setiap keluarga dan lembaga pendidikan mampu menjadikan wahyu pertama sebagai kompas, sehingga membaca, menonton, dan belajar selalu bermula dari nama Tuhan dan berujung pada kebaikan (*)

Tags :
Brain,Rot
Share This :

KONTAK INFORMASI PMB

Untuk Mendapatkan Informasi Baru Tentang Pendaftaran Mahasiswa Baru Silahkan Hubungi Nomor Dibawah iniย