Manusia Menurut Al-Qur’an

Berita

Manusia Menurut Al-Qur’an

Oleh : Drs. H. Ahkam Sumadiyana, M.A (Dosen STAI AlBayan Makassar)

Makassar, Staialbayan.ac.id —- Manusia menurut al-quran memiliki beberapa sebutan sekaligus penamaan, dan yang lebih menarik ternyata sebutan tersebut ada korelasi dan relevansinya terhadap maqam spiritual masing masing dan untuk lebih jelasnya kita akan mengkaji dari sisi al-Basyar terlebih dahulu.

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئاً مَّذْكُوراً ﴿١﴾ إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعاً بَصِيراً ﴿٢﴾ إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِراً وَإِمَّا كَفُوراً ﴿٣﴾ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَا وَأَغْلَالاً وَسَعِيراً ﴿٤﴾

Artinya; “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat, Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir, Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala”. (al-Insaan [76]:1-4).

Eksistensi manusia akan senantiasa menarik untuk dikaji dan digali baik awal terciptanya, kehidupnya, kematiannya bahkan kehidupan sesudah matinya. Artinya pengkajian dan penggalian terus berlanjut meskipun sudah menemukan bukti secara ilmiyah dan argumentasi melalui wahyu al-qur’an. Mungkin saja karena persoalan subyektivitas dan kepentingan masing-masing manusia sebagai penyebab utama mengapa kajian tentang manusia tetap berlajut sampai sekarang. Yang tidak kalah menarik ternyata Al-qur’an telah memberikan sebutan manusia dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan maqam intelektual, spiritual dan pisiknya. Sayangnya nama-nama tersebut belum banyak yang mampu mengambil pelajaran.

Panggilan dan perdikat manusia, yang berbeda-beda dari Allah Ta’alaa sesuai dengan kuwalitas masing-masing berikut sebutan manusia dengan istilah yang berbeda; Al-basyar, Al-Insan, An-Nas, Muslim, Mu’min, Muhsin, Mukhlis, Muttaqin. Sebutan manusia dengan nama yang berbeda-beda ternyata memiliki esensi yang tidak sama pula.

Al-quran telah menginformasikan dengan jelas, terhadap esistensi manusia yang beraneka ragam yang merujuk kepada pandangan tentang manusia itu sendiri, misalnya sebutan al-Basyar yang lazim diartikan manusia sebagai makhluk biologis, namun tetap dituntut dan dituntun mengikuti norma dan nilai-nilai yang benar bahkan para Nabi dan Rasul juga makhluk biologis.

Kajian ini dapat memberikan spirit dan pemikiran yang lebih komprehensip dalam upaya manusia menemukan hakekat dan jati dirinya, terutama yang digali dari sudut pandang Al-quran. Upaya pencarian jatidiri bagi manusia adalah sebuah fenomena yang tetap aktual sepanjang hidupnya. Berawal dari proses penciptaan manusia dalam al-qur’an;

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ ﴿٢٠﴾

Artinya; “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak”. (Ar-ruum; 30;20).

Mencari hakekat manusia yang hanya bertumpu pada pandangan subjektif, yang meletakkan pandangan manusia sebagai satu-satunya cara untuk menentukan pemahaman terhadap hakekatnya sendiri terasa belum sepenuhnya memadai. Hal ini karena persoalan hakekat manusia hanyalah semata-mata dilihat dari sudut pandang manusia sendiri sebagai obyek studi yang terlepas dari Penciptanya, sehingga mengabaikan sudut pandang penciptanya. Padahal sudut pandang Penciptanya tentang penciptaannya merupakan hal yang sangat fundamental untuk memahami sebuah penciptaan (Asy’ari, 1992: 11).

Dalam tulisan ini akan mencoba mendeskripsikan mengenai pengertian dan konsepsi al-Basyar dalam Alquran dengan bahan referensi yang sangat terbatas.

قَالَ لَمْ أَكُن لِّأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ ﴿٣٣﴾

Artinya; “Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (al-Hijr:[15];33).

Pengertian al-Basyar, Kata al-basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk manusia baik laki-laki maupun perempuan, satu maupun banyak. Kata basyar adalah jamak dari kata basyarah yang berarti permukaan kulit muka, wajah dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Ibn Barjah mengartikannya sebagai kulit luar. al-Laits mengartikannya sebagai permukaan kulit pada wajah dan tubuh manusia, karena itu kata mubasyarah diartikan mulamasah yang berarti persentuhan antara kulit laki-laki dan kulit perempuan, disamping itu kata mubasyarah diartikan sebagai al-wath’ atau al-jima` yang berarti bersetubuh (Manzhur, 1968: 124-126).

Pemakaian kata basyar di beberapa tempat dalam Alquran memberikan pengertian bahwa yang dimaksud adalah anak adam yang biasa makan dan berjalan di pasar-pasar, dan di dalam pasar itu mereka saling bertemu atas dasar persamaan (al-Syathi’, 1966:11)

Tags :
Headline,Quran
Share This :

KONTAK INFORMASI PMB

Untuk Mendapatkan Informasi Baru Tentang Pendaftaran Mahasiswa Baru Silahkan Hubungi Nomor Dibawah ini