Oleh : Rakhmiyanti, S.Pd., M.Pd. (Kaprodi/Dosen PGMI STAI Albayan)
Makassar, Staialbayan.ac.id —- Pendidikan merupakan salah satu instrumen utama dalam membangun kualitas manusia dan menentukan arah perkembangan peradaban. Dalam konteks modern, pendidikan tidak hanya dituntut menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga individu yang kreatif, inovatif, adaptif, berkarakter, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, globalisasi, serta dinamika sosial telah membawa perubahan besar terhadap orientasi, metode, dan praktik pendidikan.
Namun, kemajuan pendidikan modern masih menghadapi persoalan mendasar. Orientasi pendidikan yang terlalu berpusat pada capaian akademik, nilai ujian, kompetensi teknis, dan daya saing ekonomi berpotensi mengurangi perhatian terhadap pembentukan akhlak, kematangan spiritual, dan tanggung jawab moral. Peserta didik mungkin memiliki kecerdasan dan keterampilan yang tinggi, tetapi belum tentu memiliki integritas, kejujuran, empati, dan kesadaran mengenai tujuan hidupnya.
Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pembentukan manusia secara utuh. Pendidikan merupakan proses pembinaan yang mengintegrasikan dimensi keimanan, intelektual, spiritual, moral, sosial, dan keterampilan. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari kemampuan seseorang memperoleh pengetahuan atau mencapai prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuannya mengamalkan ilmu dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Salah satu model pendidikan yang memiliki landasan kuat dalam sejarah Islam adalah pendidikan pada masa Salafush Shalih. Pendidikan generasi Salaf berakar pada bimbingan Rasulullah ﷺ yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama, tauhid sebagai fondasi, serta keteladanan dan pembinaan akhlak sebagai bagian integral dari proses pendidikan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 151:
كَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.”
Ayat tersebut menggambarkan bahwa misi pendidikan Rasulullah ﷺ mencakup tilawah, tazkiyah, dan ta’lim. Ketiga dimensi ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga penyucian jiwa dan pembentukan kepribadian.
Pendidikan pada masa Salaf menjadi penting untuk dikaji kembali bukan untuk mengulang seluruh bentuk pembelajaran masa lalu secara literal, melainkan untuk menggali prinsip-prinsip dasar yang dapat diterapkan secara kontekstual dalam pendidikan modern. Relevansi tersebut terletak pada kemampuan pendidikan Islam dalam menyelaraskan kemajuan intelektual dan teknologi dengan penguatan tauhid, akhlak, serta tanggung jawab kemanusiaan.
Pendidikan pada Masa Salaf: Fondasi dan Karakteristik
Pendidikan pada masa Salaf merupakan pendidikan yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan utama dalam membangun kepribadian manusia. Para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in memperoleh pendidikan dalam tradisi keilmuan yang menekankan pemahaman wahyu, pengamalan ajaran agama, dan keteladanan Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ berhasil membentuk generasi sahabat yang memiliki keimanan kuat, kecintaan terhadap ilmu, kemuliaan akhlak, serta kesungguhan dalam menjalankan ajaran Islam. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari pendekatan pendidikan yang menyatukan pengajaran, pembinaan jiwa, dan keteladanan.
Terdapat beberapa karakteristik utama pendidikan pada masa Salaf.
Pertama, tauhid sebagai fondasi pendidikan.** Seluruh aktivitas pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang mengenal Allah, memahami tujuan penciptaannya, serta menjadikan penghambaan kepada-Nya sebagai orientasi kehidupan.
Kedua, Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber ilmu dan nilai.** Keduanya menjadi rujukan dalam memahami kebenaran, mengembangkan pemikiran, dan menentukan perilaku.
Ketiga, penguatan keimanan sebelum pembelajaran hukum secara terperinci. Pendidikan dimulai dengan menanamkan akidah, kecintaan kepada Allah, kesadaran tentang akhirat, serta tanggung jawab dalam menjalankan perintah agama.
Keempat, keteladanan sebagai metode pendidikan. Pendidik dituntut memiliki keselarasan antara perkataan dan perbuatan sehingga nilai yang diajarkan dapat diamati dan ditiru oleh peserta didik.
Kelima, kelembutan dan penghormatan dalam proses pembelajaran. Hubungan antara pendidik dan peserta didik dibangun melalui kasih sayang, penghormatan, kesabaran, dan kebijaksanaan.
Keenam, penggunaan dalil dan argumentasi. Proses pendidikan mengarahkan peserta didik untuk memahami suatu persoalan berdasarkan bukti, bukan sekadar mengikuti prasangka atau pendapat tanpa landasan. Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Salaf berorientasi pada pembentukan manusia yang memiliki kesatuan antara ilmu, iman, dan amal.
Tantangan Pendidikan Islam di Era Modern
Transformasi pendidikan modern menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi lembaga pendidikan Islam. Perkembangan teknologi memberikan kemudahan dalam mengakses informasi, memperluas sumber belajar, dan mengembangkan metode pembelajaran yang lebih interaktif. Akan tetapi, kemajuan tersebut juga menghadirkan persoalan yang memerlukan perhatian serius.
1. Orientasi pendidikan yang terlalu berpusat pada prestasi akademik
Salah satu tantangan pendidikan modern adalah kecenderungan mengukur keberhasilan peserta didik berdasarkan nilai ujian, peringkat, sertifikat, dan pencapaian akademik. Indikator tersebut memang penting untuk mengevaluasi pembelajaran, tetapi tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan kualitas manusia.
Pendidikan yang terlalu berorientasi pada hasil akademik berisiko mengabaikan pembentukan karakter, kesadaran spiritual, tanggung jawab sosial, dan kematangan emosional. Padahal, peserta didik membutuhkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kualitas kepribadian.
Prinsip pendidikan Salaf memberikan perspektif bahwa ilmu seharusnya membentuk perilaku dan meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah SWT. Dengan demikian, prestasi akademik perlu ditempatkan sebagai salah satu indikator keberhasilan pendidikan, bukan satu-satunya ukuran.
2. Pemisahan ilmu pengetahuan dari nilai-nilai spiritual
Perkembangan ilmu pengetahuan modern memungkinkan manusia memahami berbagai fenomena alam, sosial, dan kehidupan melalui penelitian serta pengamatan empiris. Namun, dalam praktik pendidikan, pengetahuan terkadang disampaikan tanpa menghubungkannya dengan pertanyaan etis, tanggung jawab moral, dan makna kehidupan.
Pendidikan Islam menawarkan pendekatan integratif yang menghubungkan ilmu dengan nilai keimanan. Ilmu pengetahuan tidak perlu dipertentangkan dengan agama, tetapi dikembangkan dengan memperhatikan validitas ilmiah, etika, dan kemanfaatannya.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran sains, matematika, teknologi, dan ilmu sosial dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir sekaligus membangun kesadaran tentang tanggung jawab manusia sebagai hamba dan khalifah Allah.
3. Krisis keteladanan dan tantangan pembentukan karakter
Peserta didik hidup dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, teman sebaya, media sosial, dan berbagai figur publik. Informasi dan perilaku yang mereka saksikan dapat memberikan pengaruh terhadap pembentukan sikap serta nilai kehidupan.
Ketika terdapat kesenjangan antara nilai moral yang diajarkan dan perilaku orang dewasa yang menjadi panutan, pendidikan karakter dapat kehilangan daya pengaruhnya.
Pendidikan Salaf menekankan pentingnya keteladanan pendidik. Guru bukan sekadar pengajar, melainkan figur yang menunjukkan bagaimana ilmu dan nilai-nilai Islam diterapkan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, penguatan karakter dalam pendidikan modern harus disertai pembinaan kepribadian pendidik dan penciptaan budaya sekolah yang mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan.
4. Perubahan perilaku belajar akibat teknologi digital
Teknologi digital telah mengubah cara peserta didik memperoleh, mengolah, dan menyebarkan informasi. Kemudahan akses terhadap berbagai sumber pengetahuan dapat memperluas wawasan, tetapi juga meningkatkan risiko paparan informasi yang keliru, perilaku konsumtif digital, distraksi, dan penggunaan teknologi yang tidak bertanggung jawab. Dalam konteks ini, pendidikan Islam perlu membekali peserta didik dengan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, etika bermedia, dan kesadaran spiritual. Teknologi harus diposisikan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran pendidik dalam membimbing, membina, dan membentuk kepribadian peserta didik.
Relevansi Prinsip Pendidikan Salaf terhadap Pendidikan Modern
Prinsip pendidikan Salaf memiliki relevansi dalam membangun sistem pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan landasan spiritualnya.
1. Tauhid sebagai orientasi transformasi pendidikan
Dalam pendidikan modern, tujuan pembelajaran sering dikaitkan dengan penguasaan kompetensi, pengembangan karier, dan kesiapan menghadapi dunia kerja. Tujuan tersebut penting, tetapi dalam pendidikan Islam perlu ditempatkan dalam kerangka penghambaan kepada Allah SWT.
Tauhid memberikan arah terhadap seluruh aktivitas pendidikan. Peserta didik tidak hanya didorong untuk menjadi manusia yang sukses secara material, tetapi juga memiliki kesadaran bahwa ilmu, keterampilan, dan kedudukan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Implementasi prinsip ini dapat dilakukan melalui pengintegrasian nilai tauhid dalam visi sekolah, kurikulum, proses pembelajaran, budaya kelembagaan, serta kegiatan pembiasaan.
Dengan demikian, pendidikan modern yang berlandaskan tauhid dapat melahirkan generasi yang memiliki orientasi hidup jelas, integritas moral, dan kesadaran spiritual.
2. Integrasi ilmu pengetahuan dan keimanan
Salah satu prinsip penting pendidikan Salaf adalah menghubungkan hakikat ilmiah dengan hakikat keimanan. Prinsip ini relevan dalam mengembangkan pendidikan integratif yang tidak memisahkan pembelajaran ilmu pengetahuan dari nilai-nilai agama.
Dalam pembelajaran sains, misalnya, peserta didik dapat mempelajari sistem kehidupan, keteraturan alam, dan fenomena lingkungan berdasarkan metode ilmiah, kemudian diarahkan untuk merefleksikan tanggung jawab manusia dalam menjaga ciptaan Allah.
Dalam pembelajaran matematika, peserta didik tidak hanya mengembangkan kemampuan numerasi dan penalaran logis, tetapi juga membangun ketelitian, kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Dalam ilmu sosial, pembelajaran dapat dihubungkan dengan keadilan, amanah, kepedulian, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Integrasi tersebut tidak berarti memaksakan penafsiran agama terhadap setiap temuan ilmiah, melainkan mengembangkan pemahaman bahwa pencarian ilmu dan penerapan pengetahuan harus berjalan bersama etika, tanggung jawab, dan kesadaran kepada Allah SWT.
3. Keteladanan guru dalam pendidikan karakter
Pendidikan modern semakin membutuhkan pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga integritas dan kepribadian yang baik.
Keteladanan merupakan salah satu pendekatan yang relevan dalam pembentukan karakter karena peserta didik dapat mengamati secara langsung penerapan nilai-nilai yang diajarkan.
Guru yang disiplin akan memperkuat pembelajaran tentang kedisiplinan. Guru yang jujur akan memberikan contoh nyata mengenai integritas. Guru yang menghargai perbedaan akan membantu membangun sikap toleran, santun, dan saling menghormati.
Dalam implementasinya, lembaga pendidikan Islam perlu mengembangkan program peningkatan kompetensi pendidik yang mencakup kemampuan pedagogis, penguasaan materi, integritas, dan keteladanan.
4. Pembelajaran humanis berbasis kelembutan
Prinsip kelembutan dalam pendidikan Salaf memiliki hubungan erat dengan pendekatan pembelajaran modern yang memperhatikan kebutuhan, potensi, dan perkembangan peserta didik.
Pembelajaran yang humanis menempatkan peserta didik sebagai individu yang memiliki kemampuan, karakteristik, dan kebutuhan yang beragam. Guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang aman, menghargai perbedaan, serta mendorong peserta didik untuk aktif dan percaya diri.
Kelembutan dalam pendidikan tidak menghilangkan aturan dan tanggung jawab. Sebaliknya, kelembutan perlu disertai ketegasan yang adil, komunikasi yang baik, dan pembinaan yang konsisten. Melalui pendekatan ini, sekolah dapat mengurangi praktik pembelajaran yang mempermalukan peserta didik serta mengembangkan budaya belajar yang menghargai proses, usaha, dan perkembangan individu.
5. Pembelajaran bertahap dan berpusat pada peserta didik
Pendidikan Salaf menekankan penyampaian ilmu secara bertahap, dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Prinsip ini sejalan dengan kebutuhan pembelajaran modern yang memperhatikan kesiapan dan perkembangan peserta didik.
Guru perlu mengidentifikasi kemampuan awal, menyusun tujuan pembelajaran yang jelas, serta memberikan materi dan aktivitas sesuai tingkat pemahaman peserta didik. Pembelajaran dapat dikembangkan melalui pendekatan diferensiasi, pemberian umpan balik, pendampingan individual, dan penguatan kompetensi secara berjenjang.
Dengan demikian, peserta didik tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan materi, tetapi juga benar-benar membangun pemahaman, mengembangkan keterampilan, dan menguasai kompetensi yang dibutuhkan.
6. Berpikir kritis dan literasi informasi berlandaskan dalil
Pendidikan Salaf menekankan pentingnya penggunaan dalil, hujah, dan bukti dalam memahami kebenaran. Prinsip ini relevan dengan pengembangan keterampilan berpikir kritis dan literasi informasi pada era digital. Peserta didik perlu dilatih untuk memeriksa sumber informasi, membedakan fakta dan opini, menganalisis argumentasi, serta menghindari penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam pendidikan Islam, keterampilan berpikir kritis juga harus disertai adab dalam mencari ilmu, sikap rendah hati, dan kesediaan menerima kebenaran. Dengan demikian, pendidikan dapat menghasilkan generasi yang tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru, mampu berpikir secara rasional, dan tetap berpegang pada nilai-nilai agama.
7. Pemanfaatan teknologi digital secara beretika
Teknologi digital dapat menjadi instrumen yang mendukung tujuan pendidikan apabila dimanfaatkan secara tepat. Penggunaan platform pembelajaran, perpustakaan digital, media interaktif, dan kecerdasan buatan dapat membantu memperluas akses informasi dan meningkatkan variasi pembelajaran.
Namun, pemanfaatan teknologi perlu diarahkan oleh prinsip kejujuran, tanggung jawab, perlindungan privasi, dan penghormatan terhadap hak orang lain. Pendidikan Islam modern perlu mengembangkan literasi digital yang tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga pada pembentukan etika dalam menggunakan teknologi.
Dengan demikian, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkuat proses pembelajaran tanpa menghilangkan hubungan manusiawi antara guru dan peserta didik. Transformasi Pendidikan Islam: Dari Transfer Pengetahuan Menuju Pembentukan Manusia Utuh
Transformasi pendidikan Islam modern perlu bergerak melampaui paradigma pendidikan yang hanya berorientasi pada transfer pengetahuan. Pendidikan harus menjadi proses pembentukan manusia yang mengintegrasikan kecerdasan, keimanan, akhlak, keterampilan, dan tanggung jawab sosial. Prinsip pendidikan Salaf memberikan landasan bahwa proses pembelajaran idealnya mencakup tiga dimensi utama, yaitu ta’lim, tazkiyah, dan tarbiyah
Ta’lim berkaitan dengan pengembangan ilmu, pemahaman, dan keterampilan intelektual. *Tazkiyah* berkaitan dengan penyucian jiwa, pembinaan spiritual, dan pengembangan kesadaran moral. Sementara itu, tarbiyah mencakup proses pembinaan dan pengembangan potensi manusia secara berkelanjutan.
Ketiga dimensi tersebut dapat diterapkan dalam pendidikan modern melalui kurikulum yang terintegrasi, pembelajaran aktif, pembiasaan ibadah, pengembangan budaya sekolah, serta evaluasi perkembangan peserta didik secara menyeluruh.
Pendidikan tidak hanya menanyakan apa yang diketahui peserta didik, tetapi juga bagaimana mereka menggunakan pengetahuannya, nilai apa yang mereka pegang, dan sejauh mana mereka mampu memberikan manfaat bagi lingkungan.
Transformasi tersebut membutuhkan dukungan seluruh ekosistem pendidikan. Sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah perlu membangun sinergi untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan intelektual dan spiritual generasi muda.
Implementasi Pendidikan Salaf dalam Lembaga Pendidikan Islam Modern
Penerapan prinsip pendidikan Salaf dalam lembaga pendidikan modern perlu dilakukan secara sistematis dan kontekstual.
Pertama, penguatan visi dan budaya sekolah berbasis tauhid. Visi pendidikan harus mencerminkan tujuan pembentukan peserta didik yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan dalam kebijakan, budaya, dan seluruh aktivitas sekolah.
Kedua, integrasi nilai Islam dalam kurikulum. Setiap mata pelajaran dapat dikembangkan dengan memperhatikan hubungan antara pengetahuan, etika, tanggung jawab, dan nilai keimanan. Integrasi ini harus dilakukan secara substantif sesuai karakteristik bidang ilmu, bukan sekadar menambahkan kutipan ayat tanpa keterkaitan konseptual.
Ketiga, penguatan kompetensi dan karakter guru. Pendidik perlu memperoleh pembinaan berkelanjutan dalam bidang pedagogik, keilmuan, teknologi, akhlak, dan keteladanan. Guru harus mampu menjadi fasilitator pembelajaran sekaligus pembimbing moral dan spiritual.
Keempat, pengembangan pembelajaran aktif dan humanis. Metode diskusi, dialog, pembelajaran berbasis masalah, eksperimen, proyek, dan refleksi dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi, dengan tetap memperhatikan adab dan nilai Islam.
Kelima, pembiasaan ibadah dan akhlak. Kegiatan salat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, doa, sedekah, kepedulian sosial, dan pembiasaan perilaku terpuji dapat menjadi bagian dari budaya sekolah yang dilaksanakan dengan pemahaman dan pendampingan.
Keenam, pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab. Sekolah perlu menyediakan akses terhadap sumber belajar digital dan membimbing peserta didik untuk menggunakannya secara kritis, aman, produktif, dan sesuai etika Islam.
Ketujuh, evaluasi pendidikan secara menyeluruh.** Evaluasi tidak hanya berfokus pada hasil ujian dan penguasaan materi, tetapi juga memperhatikan proses belajar, perkembangan keterampilan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan pengamalan nilai-nilai akhlak. Penilaian karakter perlu dilakukan secara hati-hati melalui pengamatan berkelanjutan, refleksi, dan umpan balik, bukan semata-mata pemberian angka atau label moral. Penerapan strategi tersebut memerlukan konsistensi, kepemimpinan sekolah yang visioner, keterlibatan orang tua, serta evaluasi yang berkesinambungan agar nilai pendidikan tidak berhenti pada tataran konsep.
Pendidikan Salaf dan Pengembangan Generasi Masa Depan
Pendidikan Islam modern dituntut untuk mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan global sekaligus menjaga identitas dan nilai keislamannya.
Generasi masa depan membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, serta kemampuan memecahkan masalah. Namun, berbagai kompetensi tersebut perlu disertai dengan keimanan, integritas, tanggung jawab, kepedulian, dan akhlak yang baik. Pendidikan Salaf memberikan orientasi bahwa kemajuan ilmu dan keterampilan harus disertai pembinaan jiwa. Kecerdasan harus berjalan bersama kebijaksanaan, kekuasaan harus disertai amanah, dan keberhasilan harus diiringi kesadaran untuk memberikan manfaat.
Dengan demikian, generasi yang ingin dibentuk oleh pendidikan Islam bukan hanya generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga generasi yang memiliki keteguhan prinsip, kemampuan mengendalikan diri, kesadaran spiritual, dan kepedulian terhadap kemaslahatan umat manusia.
Pendidikan Salaf dan pendidikan modern dapat dipertemukan melalui pendekatan yang menempatkan wahyu sebagai landasan nilai dan ilmu pengetahuan sebagai sarana memahami serta mengelola kehidupan. Pendekatan ini memungkinkan pendidikan Islam menjadi adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan orientasi tauhidnya.
Kesimpulan
Pendidikan pada masa Salafush Shalih memiliki relevansi yang kuat terhadap transformasi pendidikan Islam modern. Prinsip-prinsip pendidikan yang diwariskan melalui keteladanan Rasulullah ﷺ dan generasi Salaf memberikan landasan filosofis dan pedagogis dalam membangun sistem pendidikan yang mengintegrasikan tauhid, ilmu pengetahuan, pembentukan akhlak, dan tanggung jawab sosial.
Di tengah tantangan pendidikan modern yang meliputi orientasi akademik yang sempit, pemisahan ilmu dari nilai spiritual, krisis keteladanan, serta perkembangan teknologi digital, prinsip pendidikan Salaf dapat menjadi sumber inspirasi dalam mengembangkan pendidikan yang lebih utuh dan berorientasi pada pembentukan manusia.
Relevansi pendidikan Salaf dapat diwujudkan melalui penguatan tauhid, integrasi ilmu dan keimanan, keteladanan pendidik, pembelajaran yang humanis dan bertahap, pengembangan berpikir kritis, serta pemanfaatan teknologi secara beretika.
Oleh karena itu, transformasi pendidikan Islam tidak harus mempertentangkan tradisi keilmuan Salaf dengan inovasi pendidikan modern. Keduanya dapat dipadukan melalui pengembangan metode dan sarana pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman, dengan tetap menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan nilai. Pendidikan Islam yang ideal adalah pendidikan yang mampu melahirkan generasi berilmu, bertauhid, berakhlak mulia, adaptif terhadap perubahan, dan memiliki kesadaran untuk menjalankan amanah sebagai hamba Allah serta khalifah di muka bumi. Inilah esensi pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan manusia untuk menghadapi kehidupan dunia, tetapi juga membimbingnya menuju keberhasilan kehidupan akhirat. (*)

